Sandra & Edgar: A Love Without Much Words dalam Novel Cold Couple
Bagi kamu yang suka novel romance, kisah Sandra dan Edgar dalam Cold Couple mungkin tidak akan terasa seperti romance pada umumnya. Tidak ada gombalan berlebihan, tidak ada princess treatment yang terlalu mencolok, dan Edgar juga bukan tipe cowok yang setiap lima menit mengatakan betapa cantiknya Sandra.
Justru itu yang membuat hubungan mereka menarik.
Sandra adalah gadis pendiam yang kesulitan berinteraksi dengan orang lain karena phobianya. Sementara Edgar dikenal sebagai pangeran es sekolah, seorang juara karate yang cuek, dingin, dan tidak banyak bicara.
Kalau dilihat sekilas, mereka seperti pasangan yang sama-sama tidak tahu bagaimana caranya menjadi romantis.
Tapi mungkin cinta memang tidak selalu harus terdengar keras.
Sandra dan Edgar mungkin tidak banyak mengatakan “aku sayang kamu”, tetapi pembaca bisa melihat perasaan itu dari hal-hal kecil yang mereka lakukan satu sama lain.
## Sandra: Cewek yang Takut dengan Sentuhan
Sekarang kita deep dive ke karakter Sandra.
Sandra adalah cewek yang memiliki (hepatophobia atau phobia terhadap sentuhan) setelah mengalami kejadian ketika ia hampir dilecehkan saat kecil. Pengalaman tersebut membuat sentuhan menjadi sesuatu yang menakutkan baginya. Karena phobia tersebut, Sandra juga tidak terlalu bisa bergaul dengan orang lain.
Bayangin saja, bahkan ketika seseorang mengulurkan tangan untuk bersalaman, Sandra tidak selalu bisa membalasnya.
Jadi, ketika orang lain melihat Sandra sebagai cewek yang terlalu pendiam atau sulit didekati, sebenarnya ada alasan yang jauh lebih dalam di balik sikapnya.
Sandra sebenarnya tidak membutuhkan seseorang yang memaksanya untuk langsung menjadi “normal”.
Dia membutuhkan seseorang yang mau memahami ketakutannya dan perlahan memotivasinya.
Dan di sinilah Edgar mulai memiliki peran penting dalam hidup Sandra.
## Edgar: Ice Prince yang Mengerti Apa Artinya Jarak
Lanjut ke Edgar.
Edgar dikenal sebagai juara karate di sekolah. Dia juga punya image sebagai 'ice prince'—dingin, cuek, dan seperti tidak mudah disentuh oleh siapa pun.
Edgar tidak seperti Mina atau Sanggi yang bisa bertanya banyak hal dan nyerocos tanpa henti kepada Sandra.Ketika Edgar pertama kali berinteraksi dengan Sandra, dia juga tidak langsung berusaha membongkar semua tentang kehidupan gadis itu.Apalagi setelah mengetahui bahwa Sandra memiliki phobia terhadap sentuhan.Bukannya semakin banyak bertanya, Edgar justru memberikan Sandra ruang.
Menurutku, ini salah satu hal yang membuat karakter Edgar menarik.
Dia tidak mencoba memaksa Sandra untuk terbuka hanya karena dia ingin mengenalnya lebih jauh. Dia belajar memahami bahwa ada jarak tertentu yang harus dihormati.
## Edgar Belajar Tentang Ketakutan Sandra dan Mengubah Cara Memperlakukannya
Oke, ada satu funny story soal ini.
Edgar pernah menyentuh Sandra dan Sandra malah pingsan.
Di saat itulah Mina datang dan memberi tahu Edgar bahwa Sandra memiliki phobia terhadap sentuhan sambil menunggu Sandra sadar.Kejadian ini mungkin terdengar lucu kalau dilihat dari luar, tetapi setelah Edgar mengetahui kondisi Sandra, cara dia memperlakukan Sandra mulai berubah.
Berbeda dengan orang yang mungkin memilih menjauhi Sandra setelah mengetahui bahwa dia memiliki phobia, Edgar justru berusaha memahami batasannya.Dan yang menarik, Edgar tidak menunjukkan perhatiannya lewat gombalan.Dia menunjukkannya lewat tindakan.
Edgar memberikan Sandra sarung tangan supaya dia bisa perlahan mencoba menyentuh sesuatu tanpa harus langsung berhadapan dengan sentuhan kulit.
Ketika Sandra merasa risih, Edgar meminta Sanggi untuk memberikan ruang kepadanya.
Saat Sandra lupa membawa air mineral dari rumah, Edgar membelikannya air mineral.
Untuk sementara, Edgar juga tidak membawa Sandra ke tempat yang terlalu ramai karena dia tahu ada situasi tertentu yang membuat Sandra merasa tidak nyaman.
Dia melindungi Sandra, memperhatikannya, dan membantu ketika Sandra membutuhkan bantuan.
Ini yang membuat hubungan mereka terasa berbeda.
Perhatian mereka tidak selalu ditunjukkan melalui kata-kata manis atau gombalan.
## Hal-Hal Kecil yang Berarti Segalanya
Kalau diperhatikan, sebagian besar bentuk perhatian Edgar kepada Sandra sebenarnya adalah hal-hal kecil.
Edgar datang ke rumah Sandra ketika dia sakit dan membawa buah.
Dia memperhatikan Sandra tanpa terus-menerus menuntut perhatian balik.
Ketika Sandra membutuhkan bantuan, Edgar step in.
Dia memberikan sarung tangan agar Sandra bisa mencoba menyentuh sesuatu secara perlahan.
Dia juga membelikan air mineral untuk Sandra di kantin karena tahu Sandra masih merasa trauma pergi ke kantin setelah kejadian memalukan bersama Sanggi.
Bagi orang lain, mungkin semua itu terlihat biasa saja.
Hal-hal yang bahkan mungkin dianggap sebagai perlakuan standar dari seorang pacar.
Tapi bagi Sandra, semuanya memiliki arti yang jauh lebih besar.
Karena selama ini Sandra terbiasa hidup dengan jarak.
Perhatian sederhana dari Edgar perlahan membuatnya sadar bahwa ada seseorang yang benar-benar memperhatikannya.
Dan dari situlah Sandra mulai memperhatikan Edgar juga.
Dia mulai sadar bahwa dirinya ternyata spesial bagi si ice prince.
Bahkan senyum tipis Edgar bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi Sandra karena dia tahu Edgar bukan orang yang mudah menunjukkan ekspresi.
Edgar tidak perlu melakukan sesuatu yang spektakuler.
Kadang, cukup sebuah tindakan kecil yang dilakukan di waktu yang tepat.
## Perlahan, Sandra Belajar Memahami Arti Diamnya Edgar
Di awal cerita, Sandra sebenarnya merasa minder.
Dia merasa dirinya bukan apa-apa dibandingkan siswi lain di sekolah. Dia bahkan sempat mempertanyakan bagaimana mungkin seseorang seperti dirinya bisa menjadi pacar Edgar.
Ditambah lagi, sikap Edgar yang dingin dan untouchable membuat Sandra sempat merasa takut kepadanya.
Namun perlahan, tindakan-tindakan kecil Edgar mulai terasa seperti bahasa mereka sendiri.
Edgar tidak perlu banyak gombal.
Bahkan tulisan sederhana seperti “Get well soon, Gray” sudah cukup membuat Sandra bersemu.
Sandra mulai belajar membaca Edgar.
Dia mulai tahu kapan Edgar sedang memperhatikannya.
Kapan Edgar sedang mencoba membantu.
Kapan Edgar sedang berusaha melindunginya.
Dan kapan diamnya Edgar sebenarnya berarti dia sedang memberikan Sandra ruang.
Hubungan mereka berkembang bukan karena mereka tiba-tiba berubah menjadi dua orang yang sangat ekspresif.
Mereka berkembang karena 'mereka belajar membaca satu sama lain.'
Dan mungkin itulah salah satu bentuk romance yang paling menarik dari Sandra dan Edgar.
Mereka tidak selalu mengatakan apa yang mereka rasakan.
Tapi mereka belajar menunjukkannya.
# Edgar Tidak “Memperbaiki” Sandra
Kalau membaca bagian awal sampai bagian belakang novel, mungkin ada yang merasa bahwa Edgar seperti sedang berusaha memperbaiki Sandra.
Tapi sebenarnya bukan itu yang terjadi.
Edgar tidak datang lalu mengubah Sandra menjadi seorang puteri yang tidak lagi memiliki masalah hanya karena mereka pacaran.
Dia memang membantu mencari solusi, seperti ketika memberikan sarung tangan kepada Sandra.
Tetapi pada akhirnya, Sandra tetap harus menghadapi phobianya sendiri.
Edgar bisa memberikan sarung tangan.
Edgar bisa memberikan ruang.
Edgar bisa menemani.
Tapi dia tidak bisa menghadapi ketakutan Sandra untuknya.
Dan ini menjadi semakin jelas menjelang akhir novel.
Ketika Sandra melaporkan Andrew, paman Edgar, bahkan Edgar rela ditabrak oleh tantenya sendiri setelah Andrew dipenjara.
Setelah semua kejadian tersebut, Sandra mulai ragu.
Dia takut Edgar akan pergi.
Dia takut Edgar tidak akan menunggunya sampai dirinya benar-benar pulih.
Sampai akhirnya Sandra memutuskan untuk pergi.
Jadi hubungan mereka bukan cerita tentang seorang laki-laki yang datang lalu menyelesaikan semuanya. Edgar menjadi seseorang yang menemani Sandra dalam prosesnya. Sandra tetap harus berusaha untuk dirinya sendiri.
Menurutku, justru di sinilah hubungan Sandra dan Edgar terasa lebih manusiawi.
Edgar bukan penyelamat yang menghapus semua masalah Sandra.
Dia adalah seseorang yang memilih untuk tetap berada di sisinya selama Sandra berusaha menghadapi masalahnya sendiri.
## Ketakutan Kehilangan Seseorang yang Penting
Awalnya, Sandra sudah memiliki rasa minder setelah mengetahui bahwa Eva, teman ekskul karate Edgar, menyukai Edgar.Sandra merasa dirinya tidak cantik, tidak pintar, dan tidak berprestasi seperti siswa lainnya.Dia selalu membandingkan dirinya dengan orang lain.
Tapi menjelang akhir novel, muncul ketakutan yang berbeda.
Bukan lagi sekadar takut dirinya tidak cukup untuk Edgar.
Sandra mulai takut kehilangan Edgar.
Gadis yang sebelumnya hidup cukup terisolasi dari orang lain perlahan menyadari bahwa ternyata ada orang-orang yang memperhatikannya.
Selain ayahnya, ada Mina.
Dan ada Edgar.
Perlahan, kehadiran Edgar berubah.
Dia bukan lagi sekadar cowok yang mengaku sebagai pacar Sandra.
Edgar menjadi seseorang yang memberikan warna baru dalam kehidupan Sandra.
Dan ketika seseorang yang awalnya terasa asing akhirnya menjadi bagian penting dari hidup kita, wajar kalau kehilangan orang tersebut terasa jauh lebih menakutkan.
## Love Language Sandra dan Edgar Adalah Kehadiran
Kalau harus memilih satu love language Sandra dan Edgar, menurutku jawabannya bukan word of affirmation.
Bukan juga physical touch.
Melainkan kehadiran.
Edgar tidak selalu mengatakan apa yang dia rasakan.
Sandra juga bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan perasaannya.
Jadi mereka tidak memiliki hubungan yang penuh dengan kata-kata romantis.
Mereka cuma hadir.
Saling memperhatikan.
Saling membantu ketika diperlukan.
Menghormati batasan satu sama lain.
Dan perlahan belajar tentang satu sama lain.
Pada akhirnya, kehadiran itu sendiri menjadi bentuk cinta mereka.
Karena ada kalanya seseorang tidak perlu mengatakan, “Aku akan selalu ada untukmu.”
Cukup dengan benar-benar ada ketika kita membutuhkannya.
## Sandra dan Edgar, Cinta yang Tidak Banyak Bicara
Cinta tidak harus terdengar keras.
Ada cinta yang datang lewat pesan panjang, pengakuan romantis, bunga, hadiah mahal, atau kata-kata manis.
Tapi ada juga cinta yang bentuknya jauh lebih sederhana.
Seseorang yang tetap berada di sana.
Seseorang yang mengingat hal-hal kecil tentang kita.
Seseorang yang memahami batasan kita.
Seseorang yang tidak memaksa kita menjadi orang lain hanya agar hubungan itu terasa lebih mudah.
Dan Sandra serta Edgar adalah gambaran dari cinta seperti itu.
Hubungan mereka mungkin tidak dipenuhi gombalan romantis.
Edgar juga bukan tipe boyfriend yang setiap saat memberikan princess treatment.
Tapi dia memperhatikan.
Dia belajar.
Dia memberi ruang.
Dia membantu.
Dan yang paling penting, dia hadir.
Mereka tidak banyak bicara. Tetapi dari cara mereka memperlakukan satu sama lain, pembaca tetap bisa tahu bahwa ada sesuatu yang sedang mereka katakan.Mungkin itulah arti sebenarnya dari A Love Without Much Words.Karena terkadang, cinta tidak membutuhkan terlalu banyak kata untuk bisa terasa.

Komentar