3 Kisah dari Survival Show yang Bisa Mengembalikan Semangatmu Mengejar Mimpi
Di artikel sebelumnya aku sempat membahas 10 survival show K-pop yang wajib ditonton sepanjang masa. Kali ini kita bakal melihat lebih dekat dan lebih personal tiga kisah dari survival show: Produce 101 Season 1, Produce 48, dan Girls Planet 999.
Kalau kamu pernah menonton atau bahkan mengikuti perjalanan para peserta survival show, kamu pasti tahu bahwa banyak dari mereka datang ke acara ini untuk mencari kesempatan kedua. Di sana kita melihat kegagalan, tekanan, dan harapan para trainee yang berjuang agar bisa debut.
Di balik eliminasi dan latihan keras, ada banyak cerita tentang orang-orang yang tetap mengejar mimpi meskipun peluangnya kecil.
Beberapa kisah mungkin mengingatkan kamu pada masa ketika kamu sedang berjuang meraih sesuatu. Atau mungkin kamu sedang berada di fase itu sekarang. Dan itu sangat manusiawi. Dalam setiap perjuangan pasti ada kegagalan. Tapi tiga jebolan survival show ini menunjukkan bahwa hal terpenting setelah gagal adalah satu hal: kembali bangkit.
Hampir Debut, Tapi Harus Mencoba Lagi: Perjalanan Jeon Somi
Buat yang mengikuti perjalanan Somi dari awal, pasti tahu bahwa ia pernah mengikuti survival show Sixteen yang melahirkan grup TWICE.
Somi berhasil bertahan hingga babak final, yang berarti ia sudah sangat dekat dengan debut. Mimpi yang hanya tinggal selangkah lagi akhirnya harus tertunda. Saat itu Somi menangis sedih, tapi ia juga sadar bahwa jika terus terpuruk, ia tidak akan ke mana-mana.
Karena itu ia memilih untuk bangkit. Bahkan ia meminta agensinya agar bisa mengikuti Produce 101 Season 1.
Banyak trainee mungkin akan berhenti setelah kegagalan seperti itu. Tapi Somi memilih untuk mencoba lagi.
Perjalanannya di Produce 101 juga tidak mudah. Ia harus bersaing dengan banyak trainee berbakat, termasuk vokalis kuat seperti Kim Sejeong dari Jellyfish Entertainment.
Singkat cerita, Somi berhasil mencapai episode final. Momen itu tentu mengingatkannya kembali pada saat ia gagal debut sebelumnya. Apalagi namanya belum juga dipanggil sementara trainee lain satu per satu sudah diumumkan.
Hingga akhirnya tiba pengumuman peringkat pertama dan kedua yang akan debut di grup I.O.I.
Ketika diumumkan bahwa Somi berada di peringkat pertama, ia menangis bahagia. Semua perjuangan dan kegagalannya terasa terbayar.
Dari Somi kita belajar bahwa kadang kegagalan yang paling menyakitkan adalah ketika kita sudah sangat dekat dengan tujuan. Tapi kegagalan itu tidak selalu menutup jalan. Kadang justru mengarahkan kita pada kesempatan yang lebih besar.
Bertahan Lebih Lama dari Keraguan: Perjalanan Lee Chaeyeon
Sebelum dikenal banyak orang, Chaeyeon pernah mengikuti audisi K-pop Star bersama adiknya, Lee Chaeryeong. Keduanya kemudian direkrut oleh JYP Entertainment.
Seperti Somi, Chaeyeon juga mengikuti survival show Sixteen. Namun perjalanannya di acara itu tidak berlangsung lama. Ia menjadi kontestan pertama yang tereliminasi.
Kegagalan itu membuat Chaeyeon merasa dirinya tidak cukup baik.
Tak lama setelah itu, ia mendapat kabar bahwa agensinya tidak yakin untuk mendebutkan kakak dan adik dalam satu grup. Chaeyeon yang sangat menyayangi adiknya akhirnya memilih mengalah dan pindah ke agensi lain, yaitu WM Entertainment.
Di agensi baru itulah Chaeyeon mendapat kesempatan mengikuti Produce 48, survival show yang mempertemukan trainee Korea dengan idol Jepang dari AKB48.
Awalnya Chaeyeon terlihat cukup menonjol. Bahkan mentor tari di acara itu, Bae Yoonjung, sangat mendukungnya. Chaeyeon juga bisa berkomunikasi dengan idol Jepang karena kemampuan bahasa Jepangnya.
Namun perjalanan itu tetap tidak mudah.
Saat evaluasi konsep, Chaeyeon masuk ke tim “1 AM”. Setelah line-up tim diumumkan, ia mulai merasa tidak percaya diri. Selama latihan ia sering dibandingkan dengan Choi Yena.
Ketakutan Chaeyeon akhirnya menjadi kenyataan. Ia dikeluarkan dari tim tersebut dan bergabung dengan trainee lain yang juga tersingkir untuk membentuk tim baru: tim “1000%” yang hanya punya satu anggota tim yang bertahan setelah babak eliminasi sebelumnya.
Chaeyeon sempat menangis karena merasa dirinya tidak cocok dengan konsep imut lagu tersebut.
Namun di tim itu ia memilih untuk bangkit. Ia mengambil peran sebagai leader dan bekerja keras membantu rekan satu timnya. Ia bahkan melatih anggota lain agar mereka bisa tampil lebih baik.
Saat mid evaluation, tim 1000% justru mendapat pujian karena tampil stabil dibandingkan tim lain meski waktu latihan mereka sangat singkat.
Meskipun tim itu tidak memenangkan evaluasi konsep, perjalanan Chaeyeon tidak berhenti di sana.
Di episode final, Chaeyeon melihat teman-temannya satu per satu masuk ke lineup debut IZ*ONE. Bahkan sahabatnya di acara itu, Miyawaki Sakura, sudah lebih dulu dipanggil.
Saat itu rasanya hampir tidak mungkin bagi Chaeyeon untuk masuk lineup.
Namun tiba-tiba namanya disebut sebagai anggota terakhir yang akan debut bersama IZ*ONE.
Kadang perjuangan terasa sangat panjang. Tapi orang yang terus bertahan sering kali akhirnya menemukan tempatnya.
Tetap Bertahan Demi Mimpi: Perjalanan Choi Yujin
Yujin menjalani masa trainee selama tiga tahun di Cube Entertainment sebelum akhirnya debut bersama grup CLC.
Ketika ia memutuskan mengikuti Girls Planet 999, banyak orang memandangnya sebagai idol yang sudah pernah debut. Beberapa trainee bahkan menganggapnya sebagai pesaing kuat.
Namun di awal acara, Yujin mengungkapkan sesuatu yang cukup menyedihkan: agensinya sudah hampir menyerah terhadap CLC. Terlebih karena makin populernya grup junior CLC, (G) IDLE. Aktivitas grup semakin sedikit, dan beberapa member bahkan sudah meninggalkan agensi.
Banyak idol dalam situasi seperti itu mungkin memilih berhenti. Tapi Yujin tidak.
Ia mengikuti survival show itu karena ia masih ingin berada di panggung sebagai penyanyi.
Pengakuan itu mengubah cara penonton melihatnya. Dari seorang idol yang dianggap sudah punya pengalaman, menjadi seseorang yang masih berjuang mempertahankan mimpinya.
Selama acara, peringkat Yujin tidak selalu tinggi.
Yujin tahu bahwa di survival show ini ia harus memulai lagi dari awal.
Perlahan tapi pasti, ia menunjukkan kemampuannya. Ia bahkan mulai dikenal sebagai leader yang bisa membimbing trainee lain.
Saat konsep “Shoot!”, Yujin mengambil posisi sebagai leader sekaligus main vocal meskipun sebenarnya ia tidak terlalu percaya diri dengan peran tersebut. Ia membantu anggota timnya mengekspresikan diri di panggung dan mengarahkan gestur mereka.
Di episode final, nama grup debut diumumkan: Kep1er.
Satu per satu trainee dipanggil hingga akhirnya MC mengumumkan peringkat ketiga. Nama Yujin disebut.
Yujin terlihat sangat terharu karena ia akhirnya mendapat kesempatan kedua.
Dari Yujin kita belajar bahwa kadang kita terus mengejar mimpi bukan karena kita yakin akan berhasil, tapi karena kita masih mencintai mimpi itu.
Mimpi Tidak Selalu Berjalan Lurus
Pernah berpikir kenapa cerita survival show terasa begitu dekat dengan kita?
Mungkin karena seperti kehidupan nyata, tidak semua orang langsung berhasil. Banyak orang harus mencoba lebih dari sekali, seperti Chaeyeon. Dan sering kali perjalanan menuju mimpi dipenuhi ketidakpastian.
Hal yang sama juga bisa terjadi dalam hidup kita. Kita mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.
Dari Somi kita belajar untuk mencoba lagi bahkan setelah kegagalan besar.
Dari Chaeyeon kita belajar untuk tidak menyerah meskipun keraguan datang dari berbagai arah.
Dan dari Yujin kita belajar untuk terus bertahan meskipun banyak orang sudah meragukan kita.
Kadang mimpi tidak gagal.
Kita hanya sedang berada di jalan yang lebih panjang untuk mencapainya.
Yang terpenting, jangan membandingkan progresmu dengan keberhasilan orang lain. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Teruslah melangkah.



.jpeg)
Komentar